Sabtu, 18 Mei 2013

Perbuatan Baik Seringkali Pada Awalnya sebagai Sesuatu Hal yang Merugi


Ketika kita berbuat satu hal yang baik, pada awalnya mungkin kelihatan sebagai sesuatu hal yang merugikan. Namun percayalah, bahwa dalam kebajikan itu tidak ada yang sia-sia. Karena pada akhirnya akan mendatangkan keuntungan yang tak terkira.
Dalam buku ‘Piano di Tepi Pantai’ yang ditulis Jim Dornan, pemilik perusahaan Network TwentyOne yang bergerak di dunia pendidikan berskala internasional ada sebuah cerita tentang Toko Nordstrom yang selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggannya.
Pernah suatu waktu ada seorang wanita yang komplain dan henadak minta rugi. Karena satu set ban yang ia beli sudah dalam keadaan rusak. Pelayan yang melayani dengan ramah menjelaskan bahwa di tokonya tidak menjual ban mobil. Tapi hanya menjual pakaian dan perlengkapannya.
Apa daya, wanita itu tetap yakin ia membeli ban tersebut di Toko Nordstrom dan meminta uangnya dikembalikan. Pelayan itu kemudian menuruti kehendak wanita tersebut yang membuatnya dengan puas meninggalkan toko.
Sekilas tindakan pelayan toko itu memang kelihatan bodoh dan teledor. Bagaimana bisa ia mau mengganti pembelian yang tidak dijual di tokonya? Pasti akan menjadi lelucon.
Tak lama kemudian, wanita itu menyadari kesalahannya. Walau dengan perasaan tidak enak hati ia datang juga ke Toko Nordstrom untuk menjelaskan kekeliruannya. Apa yang terjadi?
Berita ini sempat diketahui media massa dan kemudian beritanya tersebut luas. Bahwa Toko Nordstrom bahkan bersedia mengembalikan uang untuk produk yang tidak dijual di toko mereka. Luar biasa.
Itulah contoh tindakan atau pelayanan yang baik kepada pembeli yang awalnya kelihatan merugikan. Namun di kemudian mendatangkan keuntungan yang tak terkira?
Mengapa bisa demikian? Sebab dengan kejadian itu Toko Nordstrom mendapatkan promosi gratis secara meluas. Berapa biaya yang dibutuhkan andaikan mereka sengaja berpromosi?
Dalam kenyatan hidup, ketika kita berusaha menjadi orang baik atau bersikap jujur seringkali justru menjadi bahan tertawaan dan dianggap bodoh. Sebagai contoh, saat kita menjadi sosok yang jujur atau anti korupsi. Kita justru akan dimusuhi dan dianggap sok alim.
Ketika dengan sikap jujur kita jadi tertipu, maka ocehan dan menyalahkan datang bertubi. Di lain waktu kita berbuat baik menolong orang lain, malahan tidak dihargai. Tapi bukan berarti kita harus berhenti untuk jujur dan berbuat baik.
Percayalah, tidak ada kejujuran atau kebaikan yang akan berakhir dengan sia-sia. Kelihatannya saja saat ini kita mengalami kerugian. Semesta ini tidak diam dan tertidur. Apa yang kita lakukan. Niat baik dan perilaku terpuji akan dengan jelas dicatat dalam buku sejarah kehidupan kita.
Pada akhirnya kita akan tercengang sendiri, karena akan memperoleh keuntungan yang tak terkira. Semua kebaikan yang ada pasti akan berbalas. Tidak akan ada yang terlewatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar